Partisipasi Bukan Sekadar Nyoblos: Belajar Jadi Warga yang Peduli
Banyak orang di negeri ini masih menganggap bahwa politik itu urusan orang besar, pejabat, dan partai. Sementara kita, rakyat kecil, cukup datang ke TPS, nyoblos, lalu kembali ke rutinitas. Padahal kalau mau jujur, politik itu bukan dunia yang jauh dari kita — justru politik hadir di setiap sisi kehidupan. Dari harga sembako, jalan yang rusak, banjir yang tak kunjung surut, sampai bantuan sosial yang tak merata — semua itu adalah hasil dari keputusan politik. Jadi kalau kita abai, artinya kita sedang menyerahkan nasib kita kepada orang lain tanpa ikut mengawasi ke mana arah perahu ini berlayar.
![]() |
Partisipasi masyarakat sebenarnya bukan hal yang rumit. Nggak mesti turun ke jalan atau jadi anggota partai. Mulainya bisa dari hal-hal kecil di sekitar kita. Misalnya, ikut rapat gampong atau musyawarah RT, aktif memberi pendapat waktu ada kebijakan baru, atau sekadar berani bertanya ke aparat desa tentang penggunaan dana publik. Di situ sebenarnya inti dari demokrasi hidup — ketika rakyat tidak hanya menunggu, tapi juga mau peduli dan ikut menentukan. Karena kalau rakyat diam, kebijakan seringkali disusun tanpa suara mereka yang paling terdampak.
Sekarang zaman sudah berubah. Media sosial memberi ruang baru bagi partisipasi politik. Orang bisa berpendapat, mengkritik, bahkan mengawasi kinerja pejabat dari layar ponsel. Tapi tentu, partisipasi digital ini juga perlu kesadaran. Jangan sampai semangat politik hanya sebatas komentar panas di kolom media, tapi nihil aksi di dunia nyata. Menjadi warga yang peduli berarti juga berani berpikir kritis, mencari informasi yang benar, dan ikut mendorong perubahan yang nyata di lingkungannya.
Di banyak tempat, masyarakat mulai sadar bahwa perubahan besar justru lahir dari langkah kecil. Ada warga yang bergotong-royong memperbaiki jalan tanpa menunggu anggaran turun. Ada pemuda kampung yang bikin forum diskusi tiap malam Jumat untuk membahas kebijakan daerah. Ada ibu-ibu yang aktif melapor soal bantuan yang tidak tepat sasaran. Semua itu bentuk partisipasi nyata yang sering luput dari perhatian, tapi dampaknya jauh lebih besar daripada ribuan kata di media sosial.
Kita juga perlu sadar bahwa partisipasi bukan berarti melawan pemerintah, tapi justru membantu pemerintah bekerja lebih baik. Pemerintah tanpa kritik akan kehilangan arah, tapi rakyat tanpa rasa percaya juga akan kehilangan harapan. Di titik itulah keseimbangan demokrasi dibangun — rakyat berani bersuara, pemerintah berani mendengar. Kalau dua-duanya berjalan, maka politik tidak lagi sekadar perebutan kekuasaan, tapi jalan menuju kemaslahatan bersama.
Negara ini tidak butuh warga yang serba tahu, tapi warga yang mau tahu. Tidak perlu semua orang turun ke jalan, tapi cukup mulai dari kesadaran kecil bahwa kita punya peran dalam menentukan arah bangsa. Karena demokrasi bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tapi tentang bagaimana rakyat ikut menjaga agar kursi itu tidak digunakan semena-mena.
Jadi, mulai hari ini, mari ubah cara pandang kita tentang politik. Jangan hanya datang ke TPS lalu merasa tugas sudah selesai. Politik sejatinya hidup di keseharian kita — di obrolan warung kopi, di keputusan kecil di kantor desa, di keberanian kita untuk peduli. Kalau bukan kita yang menjaga demokrasi, siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi? Karena sejatinya, partisipasi masyarakat bukan cuma tentang memilih pemimpin, tapi tentang memastikan pemimpin itu benar-benar bekerja untuk rakyatnya.

Post a Comment